Jika ditanya waktu apa yg paling disenangi, dengan mantab aku akan bilang “pagi”.. Embun menetes diatas daun dan rerumputan, udara segar dan suasana yg hening tenang membuat seluruh tubuh seperti terjangkit energi yang berlimpah-limpah. Pagi banyak menimbulkan kenangan, harapan dan kesadaran.
Dulu sekali saat masih kecil, di desa tercinta aku teringat ketika nenekku (Alm.) selalu membangunkanku ketika subuh tiba, dia mengajakku ke Mushola, membiasakanku untuk selalu beraktivitas pagi setelahnya seperti berolahraga, membersihkan pekarangan, menemaninya memasak dengan tungku kayu yg penuh dengan asap, dan aku benar2 menikmati semua itu karena nenek selalu mengajarkanku untuk selalu tersenyum dan ikhlas ketika melakukan itu semua (I miss u so much Grandma hiks hiks..). Ketika beranjak dewasa pun pagi selalu memberikanku kekuatan dan semangat baru untuk terus menggapai cita-cita. Hampir tiga tahun aku mengayuh sepeda dari rumah ke sekolah sejauh 7 km untuk menuntut ilmu, dan semua itu sanggup kulakukan karena kekuatan pagi. Pagi juga memberiku keberuntungan lain saat aku kuliah di Bandung, ceritanya saat itu aku ingin pindah kos karena sudah tidak merasa nyaman sekali di kosku yg terdahulu.. dan aku selalu mencari kos baru itu pagi2 sekali setelah sholat subuh dan akhirnya ketemu suatu tempat yg bagus dan keliatan nyaman, aku bertanya pada bapak yg punya rumah dan dia bilang “kamar kostnya sudah penuh semua Mas”. Keesokan harinya aku lewat rumah itu lgi untuk mencari tempat kos lainnya dan tanpa diduga bapak yang punya rumah menyapaku dan bilang “Mas, sebenarnya ada yg mau keluar kos tpi kamarnya sudah di booking orang lain. Tapi saya liat mas selalu pagi2 sekali klo lewat rumah kos ini kok sepertinya prefer Mas aja deh yg nempatin kamar itu”. Yah itulah anugrah sang pagi yang sering memberikanku keberuntungan meskipun dari hal-hal yang sepele.
Pagi juga pernah mengingatkanku dan mencoba menyadarkanku hakikat sebagai manusia biasa yg penuh khilaf dan harus ingat ke Allah sang penguasa alam. Pagi itu tgl 27 Mei 2006 sekitar pukul 06.00 WIB, ketika orang2 masih asik dengan balutan selimut dan empuknya bantal tiba2 saja sebuah gempa berkekuatn 5,9 SR mengguncang wilayah tempat tinggalku, memporak porandakan rumahku, semuanya hancur lebur, semua hasil jerih payah orang tuaku luluh lantah dalam waktu sekejap… oh my God. Aku sempat berada disana selama 3 hari dan ikut merasakan bagaimana gempa2 susulan muncul setiap satu jam sekali diiringi dengan hujan yang tak henti2nya menambah penderitaan kami yang sedang mengungsi ke tenda-tenda darurat, betapa menyeramkannya waktu itu seperti menanti hari kiamat akan datang. Banyak mayat bergelimpangan dan wajah2 ketakutan yg penuh tangis sadar bahwa sekarang sudah tidak memiliki apapun juga didunia selain semangat untuk mulai “hidup” lgi. Peristiwa itu awalnya benar2 mencabik2 hatiku dan menyalahkan bahwa Tuhan itu tidak adil, kenapa kita orang yang penuh kesusahan ini diberi cobaan yang begitu beratnya sedangkan koruptor2 itu selalu mendapatkan kemudahan dimanapun dia berada. Tapi akhirnya aku sadar dengan suatu anjuran agama ” Bahwa Allah memberikan rejeki orang berbeda-beda, orang-orang kaya beribadah dengan menyedekahkan hartanya sedangkan orang-orang miskin beribadah dengan kesabarannya” dan juga “Bahwa Allah tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya”. Dan itu menyadarkanku sepenuhnya bahwa mungkin ini lah saatnya bagiku untuk membalas budi kepada orang tuaku, membahagiakan mereka yang telah membesarkanku hingga saat ini, dan semoga itu semua dapat kulalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan seperti yang selalu diajarkan nenekku tercinta.
Dan saat ini pagi hari ketika aku menulis ini, aku sadar bahwa ternyata aku masih sama saja dengan aku yang dahulu yang banyak melakukan dosa, masih banyak mengumbar emosi, dan kurang peduli kepada sesama. Mudah2an Engkau selalu menyadarkanku lewat sang pagi ya Allah sehingga aku bisa menjadi orang yang lebih baik dari ini. Aku cinta kamu pagi karena kamu adalah inspirasi.
